Halo semuanyaaaa !
Apakabarnya hari ini nih? saya
harap kalian baik-baik aja yah ! oh iya, selamat datang di blog saya semoga
blog ini bermanfaat untuk kalian aminnn, oh iya, kali ini saya, Micko Fahraezi bersama teman
saya yaitu Valent Afrizal Ibrahim akan menjawab soal-soal sejarah Indonesia
yang diberikan oleh pak Abdul, mengenai materi teori kedatangan bangsa Jepang
ke Indonesia, selamat menyimak semuanyaaa !!
Sebelum kita ke materi inti, kami akan menjawab challenge dari bapak Abdul !!
Jadi, diantara 3 gambar tersebut
itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya dimana gambar di ujung kiri itu
merupakan Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda Letnan Jenderal Hendrik Ter
Poorten, kemudian gambar di tengah merupakan Jenderal Hitoshi Imamura,
sementara gambar di ujung kanan merupakan Perjanjian Kalijati
Hubungan dari ketiga gambar
tersebut ialah kedua tokoh tersebut merupakan tokoh perjanjian Kalijati, dimana
perjanjian ini hanya dihadiri oleh beberapa petinggi militer Jepang dan
Belanda. Belanda diwakili oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van
Starkenborgh dan Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda Letnan Jenderal
Hendrik Ter Poorten. Sementara Jepang diwakili oleh Jenderal Hitoshi Imamura.
Isi Perjanjian Kalijati
Perjanjian Kalijati merupakan
perjanjian yang dilakukan di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Perjanjian ini
dilakukan pada tanggal 8 Maret 1942. Perjanjian Kalijati antara Jepang dan
Belanda yang menjadi awal masa penjajahan Jepang di Indonesia. Isi Perjanjian
Kalijati tergolong singkat. Belanda diminta menyerahkan seluruh wilayah
kekuasaannya di Indonesia kepada Jepang tanpa syarat. Letnan Jenderal Ter
Poorten menyerahkan kekuasaannya kepada tentara ekspedisi Jepang yang dipimpin
Jenderal Hitoshi Imamura. Jepang pun mulai merombak pemerintahan sipil Hindia
Belanda. Di bawah pendudukan Jepang, terdapat tiga pemerintahan militer Jepang.
Pemerintahan militer itu berpusat di Batavia, Bukittinggi, dan Makassar. Pusat
dari pemerintahan militer ini dipimpin oleh kepala staf yang bergelar
Gunseikan.
A). Masa awal kedatangan jepang dengan garis waktu kedatangannya
Latar Belakang
Pada Mei 1940, awal Perang Dunia
II, Belanda diduduki oleh Nazi Jerman. Hindia-Belanda mengumumkan keadaan siaga
dan di Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang ke AS dan Britania. Negosiasi
dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat
gagal di Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara di bulan
Desember tahun itu. Di bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan
Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda
yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942. Pada Juli 1942, Soekarno
menerima tawaran Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk
pemerintahan yang juga dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan militer
Jepang. Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai didekorasi oleh Kaisar Jepang
pada tahun 1943.
Tetapi, pengalaman dari
penguasaan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang
hidup dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang
dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat
perbudakan seks, penahanan sembarang dan hukuman mati, dan kejahatan perang
lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran
dalam penguasaan Jepang.
Awal pemberontakkan jepang
dimulai pada Tahun 1941
Peristiwa 1941
dimulai dari tahun 6 Januari dimana Belanda menangkap Thamrin, Douwes Dekker
dan beberapa tokoh nasionalis lain. Thamrin meninggal di tahanan lima hari
kemudian. Kemudian, Douwes Dekker diasingkan ke Suriname. Selanjutnya pada tanggal 11 Januari tim
perundingan Jepang yang baru dan lebih agresif di bawah Yoshizawa tiba di
Batavia. Pada bulan Februari, Tekanan Jepang yang kian meningkat terhadap
pemerintah Hindia Belanda untuk "bergabung dengan Wilayah Kemakmuran
Bersama Asia Timur Raya" ditolak Van Mook. Lalu, pada akhirnya tanggal 14
Mei Jepang mengirimkan sebuah ultimatum kepada pemerintah Hindia Belanda,
menuntut agar pengaruh dan kehadiran Jepang dibiarkan di wilayah ini.
Setelah Jepang
mengirimkan ultimatumnya, mereka merencanakan sebuah perundingan, tetapi pada 6
Juni Perundingan antara Belanda dan Jepang tersebut gagal. Pemerintah Hindia
Belanda menjawab bahwa tidak akan ada konsesi yang akan diberikan kepada
Jepang, dan bahwa semua produk strategis (termasuk minyak dan karet) telah
dikontrakkan untuk dikapalkan ke Britania dan Amerika Serikat. Kemudian, pada 11
Juli Volksraad membentuk sebuah milisi Indonesia.
Langkah
selanjutnya yang dilakukan Jepang ialah mengumumkan pembentukan sebuah "protektorat"
atas Indochina yaitu pada tanggal 25 juli, setelah dibentuk, pada akhirnya
tanggal 26 Juli semua asset Jepang di Hindia Belanda dibekukan. Kemudian, Pemerintah
Belanda di pembuangan menjanjikan untuk mengadakan konferensi tentang Indonesia
setelah perang pada tanggal 30 juli.
Hasilnya yaitu di tanggal 30 November akhirnya Angkatan Laut Belanda di
Hindia mulai dimobilisasi.
Pada 5 Desember,
Pemerintah Hindia Belanda mengirim permintaan kepada Australia untuk
mengirimkan pasukannya ke Ambon dan Timor. Pesawat-pesawat Angkatan Udara
Australia dan personilnya tiba pada 7 Desember. Selanjutnya, 8 Desember,
waktunya untuk Jepang menyerang Malaya, mendarat di ujung selatan Thailand dan
utara Malaya. Jepang mulai menyerang Filipina. Belanda, di antara bangsa-bangsa
lainnya, perang terhadap Jepang. Penyerangan tak berakhir begitu saja, pada 10
Desember Kapal-kapal perang Britania, Prince of Wales dan Repulse
ditenggelamkan dalam perbedaan beberapa jam saja satu sama lain di lepas pantai
Malaya.
Akibat perang
tersebut, pada 16 Desember Orang-orang Aceh yang anti Belanda mengadakan
hubungan dengan pasukan-pasukan Jepang di Malaya. Tak berlangsung lama, keesokan
harinya, Pasukan yang dipimpin oleh Australia mendarat di Timor Timur. Diktator
Portugal Salazar memprotes, dan di hari yang sama, Jepang melakukan serangan
udara atas Ternate. Jepang mendarat di Sarawak. Selang beberapa hari tepatnya,
pada 22 Desember, Pasukan invasi utama Jepang mendarat di Filipina. Hatta
menulis sebuah artikel surat kabar yang menyerukan agar bangsa Indonesia
melawan Jepang. Tak hanya itu, pada 24 Desember Jepang kembali menyerang
pasukan-pasukan Britania di Kuching, Sarawak.
Tak hanya di tahun 1941, Jepang
kembali “Menggila” pada tahun 1942, ia membobardir sejumlah kawasan di wilayah Asia
terutama di Wilayah Asean hingga Indonesiaa...
Awal keganasan
jepang pada tahun 1941 dimulai pada tanggal 2 Januari dimana Jepang merebut kota
Manila. Keesokan harinya, Jepang kembali menginvasi, kali ini mereka berhasil merebut
wilayah Sabah. Tak memakan waktu yang lama, kembali Jepang dapat menginvasi
suatu wilayah yaitu mereka berhasil merebut Brunei pada 6 januari. Di hari yang
sama, untuk pertama kalinya Serangan udara pertama Jepang membobardir wilayah
Ambon.
Pada 10
Januari, kembali Jepang mulai menginvasi Indonesia, kali ini mereka mecoba
membobardir hingga merebut wilayah di Kalimantan (Tarakan) dan Sulawesi
(Manado). Hingga pada akhirnya, 11
Januari Tarakan takluk di tangan Jepang. Melihat keganasan Jepang di wilayah
Nusantara atau Indonesia, Gubernur Jenderal Van Mook melakukan perjalanan
darurat ke Amerika Serikat, meminta tambahan pasukan dengan tujuan agar Hindia
Belanda tidak dilupakan dalam pertahanan Sekutu. Keganasan Jepang berlanjut
pada 13 Januari, akhirnya setelah melakukan invasi, mereka berhasil merebut wilayah
Manado.
Pada 15
Januari - Jen. Wavell dari Britania mengambil alih komando atas ABDACOM,
komando gabungan Sekutu pertama (Australia, Britania, Belanda, Amerika) di
dalam perang. Melihat rencana sekutu demikian, Agen-agen Aceh kembali bergerak,
mereka yang berasal dari wilayah Malaya yang diiming-imingi Jepang untuk
mengusir Belanda dari wilayahnya, akhirnya terbuai, pada akhirnya mereka
mengikrarkan janji-janji yaitu memberi dukungan Jepang dalam melawan Belanda.
Dengan bantuan
tersebut, pada 23 Januari, Jepang merebut Balikpapan meskipun terdapat serangan
balasan dari Belanda dan A.S. Tak hanya puas sampai situ saja, lusa kemudian Jepang
menginvasi hingga merebut Kendari di Sulawesi. Pada 30 Januari, kembali Jepang
menyerang dan membobardir wilayah Ambon. Pasukan-pasukan KNIL dan Australia
menghancurkan pasokan agar tidak jatuh ke tangan Jepang. Kota Ambon direbut
dalam tempo 24 jam. Pertempuran berlanjut hingga 2 Februari. Sejumlah 90 persen
pasukan pertahanan Australia menjadi korban, banyak di antaranya yang dibantai
pada Februari setelah ditawan, melihat peperangan tersebut, Pasukan Britania
kocar kacir kemudian mereka mengevakuasi dari wilayah Malaya dan lari ke
Singapura.
Serangan
berlanjut pada awal bulan Februari tepatnya pada tanggal 1 februari 1941, Jepang
merebut wilayah Pontianak. Tak berlangsung lama, setelah mereka berhasil
merebut pontianak tepatnya tanggal 3
februari 1941, Jepang kembali menginvasi wilayah-wilayah nusantara, kali ini
mereka menginvasi wilayah-wilayah yang ada di pulau Jawa mulai dari mengebom
Surabaya hingga memulai serangan udara terhadap sasaran-sasaran di Jawa.
Keesokan
harinya, pertempuran antara pihak sekutu dengan pihak Jepang terjadi, yups
pertempuran tersebut dinamakam Pertempuran Selat Makassar (pertempuran laut antara
Kalimantan dan Sulawesi) dimana penyebabnya ialah Angkatan Udara dan Laut
Jepang memaksa Sekutu untuk mundur hingga ke Cilacap supaya Jepang maju hingga
ke Sulawesi. Selanjutnya, pada 6 Februari, Jepang mulai mengebom Palembang. Tak
puas sampai disitu saja, Mereka langsung bergerak cepat, tepatnya pada 8
Februari, Jepang mulai melakukan serangan utama atas Singapura.
Keesokan harinya, Jepang menginvasi wilayah
penting lainnya di pulau Jawa yaitu Batavia, Surabaya dan Malang dengan cara
mengebom. Setelah puas menginvasi sebagian wilayah penting dari pulau Jawa,
kembali pada 10 Februari 1942, Jepang merebut Makassar. Lalu, pada tanggal 13
Februari 1942, Jepang mendaratkan pasukan parasut di Palembang, merebut kota
dan industri minyaknya yang berharga. Bergerak cepat, pasukan Jepang kembali
menginvasi wilayah asean yang lainnya, tepatnya 15 Februari, Singapura jatuh ke
tangan mereka, dimana 130.000 pasukan di bawah komando Britania ditawan sebagai
tawanan perang.
Mendengar
kabar tersebut pada 18 Februari Van Mook, di Australia, memohon agar pasukan
Sekutu melakukan serangan. Keesokan harinya, benar saja, pertempuran antara
pasukan sekutu dan Jepang kembali terjadi, pertempuran ini dikenal dengan nama
Pertempuran Selat Badung (pertempuran laut antara Bali dan Lombok) disini sebuah
satuan kecil pasukan Jepang memukul mundur pasukan Belanda dan Australia, yap
kembali mereka menang perang dengan pasukan sekutu, kemudian Jepang mendarat di
Bali, sekaligus mereka meluncurkan Serangan udara pertama atas Darwin,
Australia.
Pada 20
Februari, Jepang mendarat di Timor, hanya 5 hari mereka menginvasi wilayah
timor akhirnya, wilayah Timor juga takluk di tangan Jepang. Berbarengan dengan
hal itu, kembali pada 23 Februari, Revolusi melawan Belanda dimulai di Aceh dan
Sumatra Utara, dengan tujuan utamanya yaitu mendukung Jepang agar pihak sekutu
tidak menempati wilayah mereka lagi.
Di sisi lain,
pihak Belanda justru memindahkan Soekarno ke Padang, tetapi beruntungnya,
Soekarno lolos dalam kekacauan, sementara Belanda melakukan evakuasi. Belanda
mengevakuasi Sjahrir dan Hatta dari Banda lewat udara beberapa menit sebelum
Jepang mulai mengebom pulau itu. Terlepas dari hal itu, kemudian, Jepang
mengklaim Timor, tak akan menyerah dalam perlawanan terhadap pasuka Jepang, pasukan-pasukan
Australia terus melakukan perang gerilya.
Pada 27 Februari, kembali terjadi Pertempuran,
kali ini berlokasi di Laut Jawa dekat Surabaya, dimana dalam pertempuran ini
yang berlangsung selama tujuh jam, Angkatan Laut Sekutu dihancurkan,
kapal-kapal perusak Amerika lolos ke Australia. Sekutu kehilangan lima kapal
perangnya, sedangkan Jepang hanya menderita kerusakan pada satu kapal
perusaknya (Destroyer). Rear Admiral Karel Willem Frederik Marie Doorman,
Komandan Angkatan Laut India-Belanda, yang baru dua hari sebelumnya, tanggal 25
Februari 1942 ditunjuk menjadi Tactical Commander armada tentara Sekutu
ABDACOM, tenggelam bersama kapal perang utamanya (Flagship) De Ruyter.
Keesokan
harinya, Tentara Angkatan Darat ke-16 di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi
Imamura mendarat di tiga tempat di Jawa. Pertama adalah pasukan Divisi ke-2
mendarat di Merak,Banten, kedua adalah Resimen ke-230 di Eretan Wetan, dekat
Indramayu dan yang ketiga adalah Divisi ke-48 beserta Resimen ke-56 di Kragan.
Ketiganya segera menggempur pertahanan tentara Belanda. Setelah merebut
Pangkalan Udara Kalijati (sekarang Lanud Suryadarma), Letnan Jenderal Imamura
membuat markasnya di sana. Imamura memberikan ultimatum kepada Belanda, bahwa
apabila tidak menyerah, maka tentara Jepang akan menghancurkan tentara Belanda.
Pada Maret
1942, pasukan-pasukan Sekutu di Jawa diberitahukan oleh mata-mata bahwa suatu
kekuatan Jepang sejumlah 250.000 sedang mendekati Bandung, sementara
kenyataannya kekuatannya hanya sepersepuluh jumlah itu. Informasi yang keliru
itu mungkin merupakan bagian dari alasan mengapa Sekutu menyerah di Jawa.
Awal Maret
1942, tepatnya 1 maret 1942 kembali terjadi Pertempuran, kali ini berlokasi di
wilayah Selat Sunda, sehingga dinamakan Pertempuran Selat Sunda, kemudian,
darisitulah akhirnya Pasukan invasi Jepang mendarat di Banten. Tak hanya itu,
Pasukan invasi Jepang lainnya pun mendarat di sebelah barat Surabaya.
Bebarengan dengan hal itu kembali Serangan udara Jepang atas Medan. Kemudian,
pada 5 Maret Serangan udara Jepang mendarat di Cilacap. Bebarengan dengan hal
itu, Jepang akhirnya bisa menerobos masuk ke Batavia. Tak memakan waktu yang
lama untuk menginvasi suatu wilayah, tepatnya pada tanggal 7 maret 1942, mereka
berhasil merebut Cilacap dan wilayah Rangoon (sekarang yangonm ibukota Myanmar).
Keesokan harinya, kembali Jepang menginvasi Surabaya, dan akhirnya bisa merebut
kembali Surabaya ke tangan mereka.
Invasi
berlanjut pada 11 Maret 1942, Perlawanan Aceh terlibat dalam pertempuran dengan
Belanda yang sedang mengundurkan diri. Kemudian, keesokan harinya, Jepang mendarat di Sabang. Operasi-operasi di
Aceh selesai sekitar 15 Maret. Di hari yang sama, pasukan Jepang yang lainnya
tiba di Medan. Setelah dari wilayah Medan, pada 18 Maret, kembali Jepang
menginvasi dan berhasil merebut Padang.
Akhirnya, pada 28 Maret, Pasukan Belanda terakhir di Sumatra menyerah di
Kutatjane, di selatan Aceh, setelah pasukan sekutu menyerah, Jepang mengambil
beberapa keputusan yaitu melarang semua kegiatan politik dan semua organisasi
yang ada, Volksraad dihapuskan, Bendera merah-putih dilarang hingga Angkatan
Darat ke-16 Jepang menguasai Jawa dengan rincian Angkatan Darat ke-25 di
Sumatra (markas besar di Bukittinggi); Angkatan Laut menguasai Indonesia timur
(markas besar di Makassar).
Pada April
1942, sekitar 200 tentara Sekutu yang telah melarikan diri ke bukit-bukit di
Jawa Timur dan terus berperang, ditangkap oleh Jepang di bawah perintah
Imamura. Mereka dikumpulkan dan dimasukkan ke kandang-kandang ternak dari
bambu, dibawa dengan kereta-kereta api terbuka ke Surabaya, lalu dibawa ke laut
dan dilemparkan ke ikan-ikan hiu, sementara masih berada di dalam
kandang-kandang bambu itu. Imamura dinyatakan bersalah atas kekejaman ini oleh
sebuah peradilan militer Australia setelah perang.
Insiden awal
april, tepatnya pada 7 April Tiga orang pegawai Radio Hindia Belanda dihukum
mati karena memainkan lagu kebangsaan Belanda pada 18 Maret, setelah
menyerahnya Belanda. Di hari yang sama, Jepang pun berhasil merebut Ternate.Kemudian,
darisitu Jepang mencoba untuk membentuk gerakan Tiga A; memulai kampanye
propaganda. Akhirnya, ABDACOM dibubarkan. Britania dan Amerika membagi tanggung
jawab perang, dimana Britania akan mencoba untuk merebut kembali Malaya dan
Sumatra serta Burma. Sisanya di Pasifik dan Indonesia menjadi tanggung jawab AS
(yang bekerja sama dengan Australia). Tak gentar atas terpecahnya pasukan
sekutu ke beberapa wilayah, kembali pada 19 April, Jepang merebut Hollandia
(kini Jayapura).
Pada 9 Mei
1942, kembali Jepang mendapatkan wilayah baru, kali ini mereka berhasil
menduduki Lombok. Tak lama darisitu, pada 13 Mei, Jepang berhasil menduduki
Sumbawa. Keesokan harinya, pasukan Jepang yang lainnya sudah mendarat di
Flores, pada akhirnya, Flores takluk juga oleh Jepang pada 17 Mei. Di hari
sebelumnya, tepatnya 16 Mei pasukan Jepang yang lainnya juga berhasil menduduki
wilayah Sumba. Kemudian, pada 17 Juni 1942, Pemerintah Belanda di pengungsian
London membentuk dewan konsultatif untuk urusan-urusan Hindia Belanda.
Pilihan
satu-satunya yang dimiliki Soekarno dan Hatta adalah pura-pura bekerja sama
dengan Jepang. Tujuan akhirnya, sudah tentu, bukanlah untuk mendukung Jepang,
melainkan untuk mendapatkan kemerdekaan untuk Indonesia. Belakangan, Belanda
yang kembali akan mencoba untuk menuduh Soekarno sebagai kolaborator Jepang
guna mendapatkan dukungan Britania dalam menghadapi republik Indonesia yang
baru terbentuk. Sjahrir memimpin gerakan
di bawah tanah dari rumah kakak perempuannya di Cipanas, dekat Bogor. Informasi
seringkali didapat secara diam-diam dibagikan kepada Soekarno, yang
mendapatkannya dari lingkaran dalam Jepang, dan Sjahrir.
Selanjutnya, Satuan
sisa-sisa tentara KNIL dikirim ke Kai, Aru dan Kepualuan Tanimbar. Lalu,
darisitu Jepang mengumpulkan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir di Jakarta. Kemudian,
Soekarno, Hatta, Sjahrir memanfaatkan hal ini untuk bertemu secara rahasia
dimana Soekarno untuk mengumpulkan massa untuk kemerdekaan, Hatta untuk
menangani hubungan-hubungan diplomatik, Sjahrir untuk mengkoordinasi
kegiatan-kegiatan bawah tanah.
Soekarno menerima tawaran Jepang untuk menjadi
pemimpin pemerintah Indonesia, tetapi bertanggung jawab kepada militer Jepang.
Pada 30 Juli. Jepang menduduki Kep. Kai
dan Aru, setelah sejumlah perlawanan di Kai. Keesokan harinya kembali Jepang
dapat merebut Kep. Tanimbar sejumlah perlawanan oleh KNIL dan
detasemen-detasemen Australia di Saumlaki. Pada 29 Agustus, Jepang mulai memindahkan sejumlah pasukan dari
Sumatra dan Jawa ke Kep. Solomon.
Pada bulan September,
terjadi insiden menarik dimana orang-orang
Muslim Indonesia menolak untuk memberi hormat kepada Kaisar Jepang di Tokyo.
Peristiwa di Sukamanah, Singaparna Tasikmalaya-Jawa Barat bukti nyata penolakan
tersebut. Haji Zaenal Mustafa mengangkat senjata kepada Jepang walaupun
kemudian berhasil ditumpas dan beliau dihukum mati di Ancol. Sebagai
penghormatan, nama Haji Zaenal Mustafa menjadi nama jalan terpenting di
Tasikmalaya.
Pada bulan Oktober,
Kemajuan militer Jepang di Pasifik terhenti dimana para komandan Jepang disuruh
mengembangkan sentimen-sentimen pro-Jepang di wilayah-wilayah pendudukan. Barulah, pada 16 Oktober, Tentara ke-16
Jepang mengirimkan pasukan-pasukan pengawal ke Lombok, Sumba dan Timor.
Sebenarnya, pada mulanya, propaganda Jepang kedengaran seperti perbaikan
dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. Setelah itu, pasukanpasukan Jepang
mulai mencuri makanan dan menangkapi orang untuk dijadikan pekerja paksa,
sehngga pandangan bangsa Indonesia terhadap mereka mulai berbalik.
Pada bulan
November 1942, Pemberontakan rakyat Aceh akhirnya berhasil diredam oleh Jepang.
Di sisi lain, Jenderal Imamura digantikan posisinya oleh Jenderal Harada.
Kemudian, pada 7 Desember 1942, Ratu Wilhelmina dari kerajaan Belanda, di
pengasingan berpidato menjanjikan perbaikan hubungan kembali dengan jajahan
setelah perang selesai. Peristiwa di tahun 1942 ditutup pada 27 Desember,
dimana Jepang membuka kamp interniran pertama untuk perempuan Belanda di
Ambarawa.
B). Faktor penyebab Negara Jepang
melakukan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia
Kolonialisme adalah paham tentang
penguasaan oleh suatu negara/bangsa terhadap daerah/wilayah lain dengan maksud
memperluas wilayah. Hal ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menjadi
bangsa yang terkuat, menyebarkan agama dan ideologi, dan keinginan mencari
sumber kekayaan alam.
sedangkan,
Imperialisme adalah suatu paham
yang menjadi dasar suatu negara untuk menguasai negara lain dengan membentuk
pemerintahan jajahan. Tujuannya adalah untuk bisa menguasai segala aspek
kehidupan masyarakat, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, serta militer.
Paham ini pernah diterapkan oleh berbagai negara, salah satunya Jepang, pada
awal abad ke-20.
Alasan Jepang menjadi negara
Imperialisme:
1). Adanya restorasi Meiji
Pada akhir abad ke-19, Kaisar Meiji berhasil menggulingkan kekuasaan keshogunan dan berupaya memodernisasi Jepang melalui peristiwa Restorasi Meiji. Setelah restorasi, Jepang, yang tadinya menutup diri dari negara asing, menjadi terbuka terhadap kehadiran asing.
2). Industri Jepang semakin
berkembang pesat
Restorasi
Meiji menjadi titik balik, di mana Jepang segera tumbuh dan berkembang menjadi
negara yang maju dan kuat. Kaisar Meiji mereformasi Jepang secara mendasar dan
menekankan pada pembaharuan kehidupan manusia melalui pembangunan industri serta
teknologi. Hal ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan Jepang dari
negara-negara Barat sekaligus menaikkan posisinya di mata internasional.
Dalam waktu relatif singkat, Jepang tumbuh menjadi sebuah negara industri yang maju. Alhasil, Jepang membutuhkan bahan baku dan tempat pemasaran. Oleh karena itu, maka dicarilah daerah baru untuk keperluan industrinya dan Jepang pun terjun ke dalam praktik imperialisme. Terlebih lagi, Jepang sangat bergantung pada bahan makanan yang harus dibeli dari luar negeri. Untuk bisa memenuhi kebutuhan itu, maka Jepang harus bisa menguasai lebih banyak lagi tanah jajahan di Asia Timur. Oleh karena itu, satu tokoh yang menyebabkan Jepang menjadi negara imperialis adalah Kaisar Meiji atau Matsuhito.
3). Semboyan Hakko Ichiu
Semboyan Hakko
Ichiu berarti Delapan Penjuru Dunia Di Bawah Satu Atap. Satu atap yang dimaksud
adalah di bawah Kekaisaran Jepang. Ketika paham fasisme dan ultranasionalisme
mulai merebak di kalangan militer dan politisi Jepang pada 1920-an, mereka
percaya bahwa ras mereka jauh lebih mulia dibanding yang lainnya. Oleh sebab
itu, mereka merasa berhak meluaskan kekuasaan Jepang ke negara lain.
Paham inilah yang kemudian disebut dengan Hakko Ichiu, yang digunakan Jepang untuk menguasai negara lain, termasuk Indonesia. Berbekal semboyan Hakko Ichiu, Jepang semakin terdorong untuk melakukan ekspansi. Terlebih lagi, angkatan bersenjatanya pun kuat dan banyak, sehingga Jepang semakin percaya diri untuk melakukan ekspansi ke negara lain. Sejak saat itu, Jepang berhasil mengikuti jejak Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Jerman, dan Rusia, sebagai negara imperialis.
4). Terjadinya kelaparan di
Negeri Sakura
Waktu terus
berjalan, kehidupan industri jepang berkembang dengan sangat pesat yang membuat
banyaknya lokasi hijau diubah menjadi lokasi industri, sementara wilayah jepang
terbilang sempit. Hal ini menyebabkan mereka mengalami krisis pangan
dikarenakan hilangnya sebagian besar lahan produksi pangan. Akhirnya terjadilah
bahaya kelaparan yang menjangkit seluruh wilayah jepang.
Di sisi lain, korea, negara tetangga jepang merupakan negara yang subur dengan sumber pangan yang melimpah. Dengan adanya bahaya kelaparan yang terjadi, jepang melakukan sejumlah impor bahan pangan dari negara korea. Namun, pastinya tidaklah mungkin suatu negara melakukan impor dalam jumlah besar secara terus menerus dikarenakan akan membuat kerugian bagi negara. Akhirnya terbesitlah pikiran jepang untuk bisa menguasai korea dengan menjadi negara imperialis agar warga negara mereka tidak lagi terkena bahaya kelaparan.
5). Jepang Membutuhkan Lahan
Pasar dan Penanaman Modal
Hal ini sangat cocok sekali apabila jepang melakukan pemasaran terhadap penduduk jepang. Dan oleh sebab itulah jepang berfikir bahwa jika mereka melakukan imperialisasi terhadap negeri jepang, mungkin saja mereka bisa memasarkan lebih hasil produksinya. Namun tak hanya sampai disitu, jepang pun terfikirkan akan jauhnya lokasi antara jepang dan china. Hal ini membuat adanya fikiran bahwa dengan mereka melakukan imperialisasi, mereka pun bisa turut menanamkan modal industri di negara tersebut.
6). Produk Jepang terhalang oleh
kuota impor
Saat-saat
terbaik bagi jepang adalah dimana produk mereka dengan bebasnya bisa berkuasa
di berbagai negara di dunia tanpa adanya pesaing. Mengapa bisa begitu? Mereka
menekan harga jual di negeri lain dengan menaikkan tarif produk bagi negeri
sendiri, atau yang biasa kita dengan dengan istilah politik dumping. Memang di
awal waktu, taktik ini sempat berjaya dan berhasil. Namun, dengan tersadarnya
para negara menjadi lahan pasar jepang, taktik ini menjadi luluh lantah, dan
produk jepang tidak laku terjual. Para negara pasar menyadari bahwa dengan
masuknya produk jepang yang notabenenya merupakan produk yang sangat murah
meriah, banyak produsen dalam negeri yang bangkrut. Sehingga kekayaan negara
mengalami penurunan. Dengan adanya pembatasan produk-produk jepang oleh negara
pasar, negara jepang mulai meyakini bahwa menjadi negara imperialis adalah
pilihan tepat untuk memasarkan produk mereka.
Alasan Negara Jepang melakukan kolonialisme
dan imperialisme di Indonesia :
1), Karena Jepang mengelola,
memanfaatkan dan menguasai segala kekayaan alam yang ada di Indonesia seperti
hasil minyak bumi, hasil rempah rempah dan lain lain yang hanya diperuntukkan
untuk kepentingan industri, bahan bakar untuk perang dan perekonomian negara
Jepang.
2). Karena pihak Jepang
mengetahui bahwa jumlah penduduk di Indonesia sangat majemuk maka dimanfaatkan
sebagai wilayah untuk jalur pemasaran baraang dan jasa serta perdagangan aktif
hasil industri negara Jepang.
3). Karena Jepang mengetahui saat
itu penduduk Indonesia masih sedikit yang berpendidikan tinggi dan kritis
tentang ketidakadilan yang dilakukan bangsa Jepang, disebabkan karena warga
Indonesia masih banyak yang hidup berada pada garis kemiskinan dan kebodohan
maka pihak jepang sangat mudah mempengaruhi mereka untuk memperkerjakan mereka
sebagai buruh dengan upah yang sangat rendah.
4). Karena pihak Jepang
mengetahui bahwa bumi di Indonesia sangat mudah ditanami oleh tumbuhan yang
menghasilkan rempah rempah dan memilki sumber daya alam yang sangat melimpah
misalnya adanya gas Alam , minyak bumi, hasil perak dan emas, batu bara, nikel
dan lain lain sebagainya.
Link:
https://tulisan.fadillaharsa.id/2019/08/faktor-pendorong-jepang-menjadi-negara-imperialis/
http://gurupintar.com/threads/jelaskan-alasan-jepang-menjajah-indonesia.1644/
C). Kehidupan kependudukan Jepang
di Indonesia
a) Aspek Sosial
Pemerintahan
Jepang saat itu mencetuskan kebijakan tenaga kerja romusha. Mungkin kamu sudah
sering dengar kalau romusha adalah sistem kerja yang paling kejam selama bangsa
Indonesia ini dijajah. Tetapi, pada awalnya pembentukan romusha ini mendapat
sambutan baik lho dari rakyat Indonesia, justru banyak yang bersedia untuk jadi
sukarelawan. Namun semua itu berubah ketika kebutuhan Jepang untuk berperang
meningkat.
Pengerahan
romusha menjadi sebuah keharusan, bahkan paksaan. Hal tersebut membuat rakyat
kita menjadi sengsara. Kamu bayangin aja, rakyat kita dipaksa membangun semua
sarana perang yang ada di Indonesia. Selain di Indonesia, rakyat kita juga
dikerjapaksakan sampai ke luar negeri. Ada yang dikirim ke Vietnam, Burma
(sekarang Myanmar), Muangthai (Thailand), dan Malaysia. Semua dipaksa bekerja
sepanjang hari, tanpa diimbangi upah dan fasilitas hidup yang layak. Akibatnya,
banyak dari mereka yang tidak kembali lagi ke kampung halaman karena sudah
meninggal dunia. Selain romusha, Jepang juga membentuk Jugun Ianfu. Jugun Ianfu
adalah tenaga kerja perempuan yang direkrut dari berbagai Negara Asia seperti
Indonesia, Cina, dan korea. Perempuan-perempuan ini dijadikan perempuan
penghibur bagi tentara Jepang. Sekitar 200.000 perempuan Asia dipaksa menjadi
Jugun Ianfu.
B). Aspek Politik
Pada masa
pendudukan Jepang, pemerintah Jepang selalu mengajak bekerja sama
golongan-golongan nasionalis. Hal ini jelas berbeda dibandingkan pada masa
pemerintahan Hindia-Belanda. Saat itu golongan nasionalis selalu dicurigai.
Golongan nasionalis mau bekerja sama dengan pemerintahan Jepang karena Jepang
banyak membebaskan pemimpin nasional Indonesia dari penjara, seperti Soekarno,
Hatta, dan juga Sjahrir. Kenapa Jepang mengajak kerja sama golongan nasionalis
Indonesia? Karena Jepang menganggap bahwa golongan nasionalis ini memiliki
pengaruh besar terhadap masyarakat Indonesia. Saat itu, Wakil Kepala Staf
Tentara Keenam Belas, Jenderal Harada Yosyikazu, bertemu dengan Hatta untuk
menyatakan bahwa Jepang tidak ingin menjajah Indonesia, melainkan ingin
membebaskan bangsa Asia.
Karena itulah
Hatta mererima ajakan kerja sama Jepang. Akan tetapi, Sjahrir dan dr. Tjipto
Mangunkusumo tidak menerima tawaran kerja sama Jepang. Namun, kemudian Jepang
mengeluarkan undang-undang yang terkait pada bidang politik yang justru banyak
merugikan bangsa Indonesia. Beberapa di antaranya:
1). Undang-Undang Nomor 2 tanggal
8 Maret tahun 1942, tentang larangan kepada orang Indonesia untuk berserikat
dan berkumpul.
2). Undang-undang Nomor 3 tanggal
10 Mei tahun 1942, tentang larangan kepada orang-orang Indonesia untuk
memperbincangkan pergerakan atau propaganda perihal peraturan dan susunan
Negara.
3). Undang-undang tanggal 22 Juli
tahun 1942, tentang larangan pendirian organisasi yang bersifat politik.
C). Aspek Ekonomi
Sewaktu
Indonesia masih di bawah penjajahan Jepang, sistem ekonomi yang diterapkan
adalah sistem ekonomi perang. Saat itu Jepang merasa penting untuk menguasai
sumber-sumber bahan mentah dari berbagai wilayah Indonesia. Tujuan Jepang
melakukan itu, untuk menghadapi Perang Asia Timur Raya, Squad. Nah,
wilayah-wilayah ekonomi yang sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri atau yang
diberi nama Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya, merupakan wilayah
yang masuk ke dalam struktur ekonomi yang direncanakan oleh Jepang. Kalau di
bidang moneter, pemerintah Jepang berusaha untuk mempertahankan nilai gulden Belanda.
Hal itu dilakukan agar harga barang-barang dapat dipertahankan sebelum perang.
Kebijakan ekonomi Indonesia era Pendudukan Jepang:
1). Menyita asset-asset ekonomi
yang penting
2). Adanya kebijakan
Self-Sufficiency
3). Melakukan pengawasan yang
ketat dalam bidang ekonomi
D). Aspek Budaya
Pemerintahan
Jepang pernah mencoba menerapkan kebudayaan memberi hormat ke arah matahari
terbit kepada rakyat Indonesia lho! Dalam masyarakat Jepang, kaisar memiliki
tempat tertinggi, karena diyakini sebagai keturunan Dewa Matahari. Nah, Jepang
berusaha menerapkan nilai-nilai kebudayaannya kepada bangsa Indonesia. Tetapi
langsung mendapat pertentangan dan perlawanan dari masyarakat di Indonesia.
Bangsa kita ini hanya menyembah Sang Pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa mana
mungkin setuju memberi hormat dengan membungkukkan punggung dalam-dalam
(seikerei) ke arah matahari terbit.
Dahulu, para
seniman dan media pers kita tidak sebebas sekarang. Pemerintahan Jepang
mendirikan pusat kebudayaan yang diberi nama Keimin Bunkei Shidoso. Lembaga ini
yang kemudian digunakan Jepang untuk mengawasi dan mengarahkan kegiatan para
seniman agar karya-karyanya tidak menyimpang dari kepentingan Jepang. Bahkan
media pers pun berada di bawah pengawasan pemerintahan Jepang.
Link = https://www.ruangguru.com/blog/kehidupan-bangsa-indonesia-masa-pendudukan-jepang
Okeh, begitulah pemaparan materi dari Kami, terimakasih kepada pak Abdul yang telah memberikan tugas ini, karena bisa menambah pengetahuan kami tentang kependudukan Jepang selama di Indonesiaa... Terimakasih pakk !!
Okeh kita yel-yel dulu kali yee...
Sejarah Indonesiaa sangat menarik dan menyenangkan bukan? xixixiiii
betewe ada quotes ni bentar ye :
"Sejarah akan menghitamkan mereka yang layak dijatuhkan, sejarah akan meninggikan mereka yang memang layak dimuliakan." - Mba Najwa Shihab
oke sob kayaknya segini dlu pertemuan kita, next kita bakalan lanjut lagi nanti untuk buat blog kayak begini lagi okeh? bye-bye sob, jaga kesehatannya yaa, jangan sampe sakit, see u !!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar